Analisis ADRO
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), penerus PT Adaro Energy Indonesia pasca spin-off AADI (Desember 2024), membuktikan bahwa bisnis intinya jauh lebih kuat dari yang diperkirakan pasar. Laporan Q1 2026 menjadi 'moment of truth': revenue tumbuh +26.7% YoY menjadi IDR 8,005 T, laba bersih melonjak +68.9% YoY menjadi IDR 2,442 T, dan gross margin mencapai 37,9% — tertinggi sejak AADI dipisahkan.
Pada harga Rp 2.220, ADRO diperdagangkan pada PBV 0,71x — di bawah nilai buku asetnya sebesar Rp 3.137/saham. Ini berarti investor yang masuk hari ini secara teoritis membeli aset seharga 71 sen per satu rupiah nilai bukunya. Kondisi ini sangat langka untuk perusahaan yang masih tumbuh dengan laba double digit.
Tiga pilar bisnis 'new ADRO' beroperasi sinergistis: (1) Coal Mining — met coal + sisa termal — dengan margin yang membaik seiring pemulihan harga met coal; (2) Mining Services melalui SIS (Saptaindra Sejati) yang tumbuh dengan kontrak dari AADI, PTBA, dan klien lain; dan (3) Renewable Energy — PLTA Kayan 1,3 GW + solar 0,4 GW + aluminium smelter — yang masih dalam konstruksi dan akan menjadi game-changer mulai 2027-2028.
Dengan kas bersih IDR 19,7 T, PE forward hanya 6,7x, PBV 0,71x, dan dividend yield regular 11,9%, ADRO menawarkan kombinasi value + growth + income yang sangat jarang ditemukan. Target harga 12 bulan: Rp 2.700 – Rp 3.300 (upside +22% hingga +49% dari harga saat ini).
- PBV 0,71x di bawah nilai buku — anomali pasar akibat ketakutan berlebihan pasca spin-off AADI yang sudah terbantahkan oleh data Q1 2026
- Laba bersih Q1 2026 +68,9% YoY dengan gross margin 37,9% membuktikan 'new ADRO' justru lebih profitable dari ekspektasi pasar
- Dividend yield regular 11,9% dari FY2025 (Rp 263/saham) menjadikan ADRO salah satu saham dengan yield tertinggi di IDX
- Tiga pilar terdiversifikasi: met coal (margin tinggi) + SIS mining services (recurring revenue) + renewable energy (growth driver 2027+)
- Net cash positif IDR 19,7 T memberikan buffer kuat untuk capex konstruksi PLTA sekaligus potensi dividen tambahan
- PE forward 6,7x sangat murah untuk perusahaan dengan pertumbuhan laba 69% YoY — pasar belum sepenuhnya me-reprice profil baru ADRO
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) adalah perusahaan energi terdiversifikasi yang sedang dalam transformasi dari coal pure-play menjadi energy company dengan tiga pilar: met coal mining, mining services (SIS), dan renewable energy. IPO 16 Juli 2008. Pasca spin-off AADI (batubara termal) pada Desember 2024, ADRO berposisi sebagai perusahaan energi transisi dengan profil pertumbuhan yang lebih tinggi dan margin yang lebih baik.
| Segmen Bisnis | Status | Kontribusi | Prospek 2026+ |
|---|---|---|---|
| Coal Mining (Met Coal + sisa termal) | Operasional | ~52% revenue FY2025 | Stabil-positif; harga met coal lebih premium dari thermal; pemulihan harga Q1 2026 mendorong margin |
| Mining Services — SIS (Saptaindra Sejati) | Operasional & tumbuh | ~46% revenue FY2025 | Tumbuh kuat; OB removal meningkat; klien AADI, PTBA, lainnya; recurring revenue |
| Renewable Energy (PLTA 1,3 GW + Solar 0,4 GW + Smelter Al) | Konstruksi/early-stage | Revenue minimal saat ini | Game-changer 2027-2030; NPV estimasi USD 3,5 miliar |
Revenue 'new ADRO' (post-spin-off) menunjukkan tren naik yang konsisten: Q1 2025 IDR 6,320 T → Q2 IDR 7,714 T → Q3 IDR 8,177 T → Q4 IDR 8,789 T → Q1 2026 IDR 8,005 T. Total FY2025 sekitar IDR 31,000 T. Pertumbuhan YoY Q1 2026 vs Q1 2025 adalah +26,7%, didorong oleh volume OB removal SIS yang lebih tinggi dan pemulihan harga met coal pasca eskalasi Timur Tengah.
Profitabilitas menunjukkan pemulihan dramatis. Gross margin yang sempat drop ke 28,9% di Q1 2025 (titik terburuk pasca spin-off, memicu kekhawatiran pasar) kini kembali ke 37,9% di Q1 2026 — naik 9 ppt YoY. EBIT margin Q1 2026 sekitar 30%. Net margin 30,5% di Q1 2026 adalah yang tertinggi dalam 5 kuartal terakhir. Perbaikan margin didorong efisiensi biaya agresif dan kenaikan ASP met coal.
OCF Q1 2026 sebesar IDR 3,317 T adalah yang terkuat pasca spin-off — naik +147% dari IDR 1,340 T di Q1 2025. Kas akhir Q1 2026 mencapai IDR 19,694 T, sangat besar dan memberikan fleksibilitas penuh. FCF positif IDR 2,450 T di Q1 2026 meski capex konstruksi PLTA masih berjalan. Catatan: OCF Q3 2025 sempat rendah (IDR 984 T) akibat timing working capital — ini bersifat sementara dan sudah normal kembali di Q4 2025 dan Q1 2026.
Total ekuitas Q1 2026 mencapai IDR 92,195 T, naik dari IDR 83,713 T di akhir 2025. Book value per saham IDR 3.137 — signifikan di atas harga saham saat ini IDR 2.220 (PBV 0,71x). Net cash positif dengan kas IDR 19,694 T. Total utang meningkat untuk mendanai capex PLTA, namun DER masih di bawah 0,25x — sangat manageable. Working capital lebih dari cukup untuk mendanai operasi dan dividen.
- Q2 2026 earnings (Agustus 2026): jika momentum Q1 berlanjut, konsensus EPS FY2026 IDR 247 bisa terlampaui signifikan
- Pemulihan harga met coal berlanjut pasca eskalasi Timur Tengah mendorong harga energi global +20% di Q1 2026
- Mining Services (SIS): pertumbuhan overburden removal dari AADI, PTBA, dan klien baru — recurring revenue tidak tergantung harga batubara
- Pendapatan bunga dari kas USD 1,15 miliar (~USD 50-60 juta/tahun bonus earnings non-operasional)
- Buyback saham yang disetujui RUPST April 2026 — mengurangi supply dan meningkatkan EPS per saham
- Progress konstruksi PLTA Kayan 1,3 GW yang on-track → re-rating multipel ketika COD semakin dekat (2027-2028)
- Potensi dividen interim FY2026 jika laba H1 2026 kuat
ADRO adalah salah satu 'hidden gem' terbaik di IDX saat ini. Kombinasi PBV 0,71x (di bawah nilai buku), PE forward 6,7x, dividend yield 11,9%, dan pertumbuhan laba +68,9% YoY menciptakan risk-reward yang sangat asimetris dalam favor investor.
Pasar masih memprice ADRO seolah spin-off AADI merusak bisnisnya — padahal data Q1 2026 membuktikan sebaliknya: 'new ADRO' tanpa batubara termal justru lebih profitable dengan margin yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih kuat.
Untuk investor dengan horizon 12 bulan, target Rp 2.700–3.300 memberikan upside +22% hingga +49% belum termasuk dividend yield 11,9%. Total return potensial: +34% hingga +61%. Untuk investor jangka panjang (3-5 tahun) yang percaya pada eksekusi roadmap renewable energy ADRO, upside bisa jauh lebih besar ketika PLTA 1,3 GW mulai beroperasi.
REKOMENDASI: BUY/ACCUMULATE — Akumulasi pada zona Rp 2.000–2.500. Harga saat ini Rp 2.220 sudah dalam zona yang sangat menarik.